Kesalahan investasi pemula sering terjadi bukan karena faktor kesengajaan, tetapi karena memang kurangnya pemahaman tentang langkah awal yang tepat. Banyak orang sudah mulai berinvestasi, tetapi melakukan beberapa hal yang tanpa disadari justru menghambat perkembangan investasi mereka.
Memahami kesalahan saat mulai investasi sangat penting agar proses belajar dapat berjalan lebih tenang, tidak terburu-buru, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kondisi pasar yang berubah.
Sebelum membahas kesalahan investor pemula lebih jauh, ada baiknya memahami dulu langkah dasarnya. Kamu bisa membaca panduan lengkap tentang cara memulai investasi untuk pemula untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh.
Ketika baru mulai berinvestasi, wajar jika seseorang masih berada di tahap belajar. Banyak istilah baru, pilihan instrumen yang beragam, serta informasi yang kadang berbeda antara satu sumber dan lainnya.
Kondisi ini sering membuat pemula merasa ragu atau justru mengambil keputusan terlalu cepat.
Selain itu, ada beberapa hal yang membuat kesalahan saat mulai investasi cukup sering terjadi, misalnya:
- ingin cepat melihat hasil
- ikut tren tanpa memahami risiko
- belum memiliki rencana yang jelas
- belum terbiasa melihat nilai investasi naik turun
Hal-hal seperti ini sebenarnya sangat umum terjadi dan hampir dialami oleh banyak orang di tahap awal. Karena itu, memahami kesalahan investasi yang sering terjadi sejak awal bisa membantu menghindari kerugian yang tidak perlu.
Pentingnya memahami risiko dan legalitas sebelum berinvestasi juga pernah ditekankan dalam panduan resmi tentang tips investasi secara aman yang diterbitkan oleh OJK, yang mengingatkan investor untuk mengenali profil risiko dan memastikan produk investasi memiliki izin yang jelas.
Pada bagian berikutnya, kita akan membahas beberapa kesalahan investasi pemula yang paling sering terjadi dan bagaimana cara menghindarinya.
Kesalahan Investasi Pemula yang Sering Dilakukan
Berikut penjelasan beberapa kesalahan saat mulai investasi dan cara menghindarinya.
Memulai Tanpa Tujuan yang Jelas
Sebagian orang langsung memilih produk investasi tanpa mengetahui tujuan yang ingin dicapai. Akibatnya, pilihan instrumen sering tidak sesuai dengan kebutuhan sebenarnya.
Contoh kasus yang kurang tepat:
Misalnya, seseorang berencana menggunakan uangnya dalam waktu satu tahun untuk biaya pendidikan. Namun karena melihat banyak orang membicarakan saham, ia justru menaruh seluruh dananya di saham tanpa mempertimbangkan jangka waktu.
Ketika dana tersebut dibutuhkan, nilainya sedang turun dan terpaksa dijual dalam kondisi yang kurang menguntungkan. Situasi seperti ini sering terjadi bukan karena investasinya salah, tetapi karena tujuan dan jangka waktunya tidak dipikirkan sejak awal.
Contoh kasus yang lebih tepat:
Orang lain dengan tujuan yang sama memilih menyimpan dana tersebut di reksa dana pasar uang atau instrumen yang lebih stabil, karena tahu dana akan digunakan dalam waktu dekat. Potensi hasilnya mungkin tidak setinggi saham, tetapi nilainya cenderung lebih stabil dan sesuai dengan kebutuhan.
Cara menghindari:
- Tentukan dulu tujuan investasi, misalnya:
- dana pendidikan
- membeli rumah
- persiapan jangka panjang
Dengan tujuan yang jelas, biasanya lebih mudah menentukan instrumen dan jangka waktu yang sesuai.
Menggunakan Dana yang Tidak Siap Diinvestasikan
Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah menggunakan uang yang sebenarnya masih dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari atau dana darurat.
Ini bisa berbahaya karena:
- investasi terpaksa dicairkan di waktu yang tidak tepat
- kondisi keuangan menjadi tidak stabil
Contoh kasus yang kurang tepat:
Misalnya, seseorang menginvestasikan sebagian besar uang yang sebenarnya masih mungkin dibutuhkan dalam waktu dekat, dengan harapan nilainya akan terus bertambah. Namun investasi tidak selalu menguntungkan setiap saat.
Ketika muncul kebutuhan mendesak, ia terpaksa mencairkan investasinya pada saat nilainya sedang turun. Akibatnya, dana yang diterima justru lebih kecil dari yang disetor, sehingga bukan hanya tujuan investasi yang gagal, tetapi kebutuhan mendesak juga menjadi lebih sulit dipenuhi.
Contoh kasus yang lebih tepat:
Yang lebih tepat adalah memilih menyiapkan dana darurat terlebih dahulu dan memastikan kebutuhan bulanannya aman. Setelah itu, barulah menyisihkan sebagian kecil penghasilan yang memang tidak akan digunakan dalam waktu dekat untuk diinvestasikan.
Dengan cara ini, investasi bisa berjalan lebih tenang tanpa mengganggu kebutuhan utama. Ketika nilai investasi mengalami penurunan, ia tidak perlu panik atau mencairkan dana, karena kebutuhan mendesak sudah ditangani oleh tabungan atau dana darurat.
Kondisi seperti ini biasanya membuat keputusan investasi menjadi lebih tenang dan tidak terburu-buru.
Cara menghindari:
Pastikan kebutuhan utama dan dana darurat sudah aman sebelum mulai berinvestasi. Dana yang digunakan untuk investasi sebaiknya adalah dana yang tidak akan dibutuhkan dalam waktu dekat, sehingga tidak perlu terburu-buru mencairkannya.
Terlalu Berharap Hasil Cepat
Banyak kesalahan investor pemula terjadi karena ekspektasi yang terlalu tinggi. Melihat orang lain mendapatkan keuntungan sering membuat seseorang berharap hasil yang sama dalam waktu singkat.
Padahal, investasi biasanya berkembang dalam jangka waktu yang lebih panjang. Hasil yang stabil sering datang dari waktu dan konsistensi, bukan dari pergerakan cepat dalam waktu singkat.
Namun, ada juga kondisi sebaliknya. Kadang investasi memang bisa memberikan keuntungan cukup cepat, bahkan lebih cepat dari yang diharapkan. Dalam situasi seperti ini, mencairkan sebagian keuntungan sebenarnya bukan hal yang salah, terutama jika:
- tujuan investasi jangka pendek sudah tercapai
- dana tersebut memang dibutuhkan
- atau ingin mengamankan sebagian keuntungan
Misalnya, seseorang membeli saham dengan tujuan jangka panjang, lalu dalam dua bulan nilainya naik 20%. Karena merasa senang dan takut keuntungannya hilang, ia langsung menjual seluruh investasinya.
Setelah beberapa waktu, saham tersebut ternyata terus naik, tetapi ia sudah tidak ikut menikmati pertumbuhan tersebut. Kondisi seperti ini cukup sering terjadi ketika keputusan diambil karena euforia sesaat, bukan karena tujuan investasi sudah tercapai atau ada rencana lain yang jelas.
Menjual sebagian untuk mengamankan keuntungan boleh saja, tetapi mencairkan semuanya tanpa pertimbangan sering membuat peluang pertumbuhan jangka panjang terlewat.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah dorongan untuk cepat untung sering membuat seseorang memilih instrumen yang tidak sesuai dengan kondisi keuangannya.
Misalnya, mencoba trading futures atau instrumen berisiko tinggi karena tergiur potensi keuntungan cepat, padahal kondisi keuangan masih dalam tahap membangun dan belum stabil. Risiko dari instrumen seperti ini jauh lebih besar, dan jika terjadi kerugian, dampaknya bisa cukup berat.
Cara menghindari:
Fokus pada proses dan konsistensi, bukan keuntungan cepat. Jika keuntungan datang lebih cepat dari perkiraan, tetap kembali ke tujuan awal investasi dan putuskan berdasarkan rencana, bukan emosi sesaat.
Ikut-ikutan Tanpa Memahami Produk
Ini termasuk kesalahan investasi yang harus dihindari karena cukup berisiko. Membeli investasi hanya karena teman atau media sosial sering berakhir kurang baik.
Saat ini, informasi tentang investasi sangat mudah ditemukan, termasuk dari influencer atau konten di media sosial. Ini bisa membantu sebagai referensi awal, tetapi perlu berhati-hati.
Tidak semua informasi yang dibagikan benar-benar berdasarkan analisis yang mendalam. Ada juga konten yang bersifat promosi atau mendorong banyak orang membeli suatu instrumen agar harganya cepat naik, yang sering dikenal sebagai praktik pompom saham.
Selain itu, pemula juga perlu waspada terhadap skema investasi yang tidak jelas, seperti skema ponzi atau bentuk lain yang dikemas sangat rapi dan terlihat meyakinkan.
Biasanya cirinya adalah:
- menjanjikan keuntungan tinggi dalam waktu singkat
- terlihat stabil tanpa risiko
- menggunakan testimoni berlebihan
- sulit dijelaskan bagaimana keuntungan sebenarnya dihasilkan
Skema seperti ini sering terlihat meyakinkan di awal, tetapi pada akhirnya merugikan banyak orang ketika aliran dana baru berhenti.
Bagi pemula, situasi seperti ini bisa menyesatkan, karena keputusan diambil berdasarkan tren atau janji keuntungan, bukan pemahaman. Ketika masalah muncul, biasanya justru investor yang masuk belakangan yang menanggung risiko paling besar.
Cara menghindari:
- pahami cara kerja instrumen
- ketahui risikonya
- pastikan sesuai tujuan
Tidak perlu memahami terlalu dalam, tetapi setidaknya tahu dasar-dasarnya. Jika mendapatkan rekomendasi dari mana pun, biasakan untuk mengecek kembali dari sumber lain sebelum memutuskan, dan pastikan platform atau produk tersebut memiliki izin dan pengawasan yang jelas.
Jika masih bingung membedakan mana instrumen yang relatif aman dan mana yang berisiko tinggi, kamu bisa membaca panduan tentang jenis investasi yang aman untuk pemula dengan modal kecil agar memiliki gambaran yang lebih jelas sebelum memutuskan.
Tidak Siap Menghadapi Nilai yang Naik Turun
Semua investasi, terutama saham dan reksa dana saham, memiliki fluktuasi. Pemula sering panik ketika nilai turun dan akhirnya menjual di waktu yang kurang tepat.
Sebaliknya, kondisi yang sering terjadi adalah euforia ketika harga sedang naik. Saat nilai investasi meningkat cukup tinggi, sebagian orang merasa harga akan terus naik sehingga menunda menjual atau meninjau kembali rencananya.
Ketika harga kemudian turun, barulah muncul rasa menyesal karena tidak sempat mengambil keuntungan.
Situasi seperti ini sebenarnya cukup umum dalam investasi. Pergerakan harga yang naik lalu turun adalah hal yang wajar, terutama dalam jangka pendek. Karena itu, penting untuk kembali pada tujuan awal.
Jika tujuan investasi memang jangka panjang, fluktuasi seperti ini biasanya tidak perlu terlalu dikhawatirkan, selama instrumen yang dipilih masih sesuai dan kondisi fundamentalnya tidak berubah.
Cara menghindari:
- pahami bahwa naik turun adalah hal yang normal
- tujuan investasi lebih baik jangka menengah atau panjang
Dengan pemahaman ini, keputusan menjadi lebih tenang dan tidak terlalu dipengaruhi emosi saat harga naik maupun turun.
Dana Terlalu Besar di Awal dan Tidak Konsisten Berinvestasi
Sebagian orang terlalu bersemangat di awal dan langsung menginvestasikan dana dalam jumlah besar, tetapi setelah itu tidak melanjutkan investasi secara rutin. Cara ini cukup berisiko, terutama jika harga investasi mengalami penurunan setelah pembelian pertama.
Ketika seluruh dana sudah masuk di awal lalu harga turun tajam, tekanan psikologis akan terasa lebih besar karena tidak ada pembelian lanjutan yang bisa membantu menurunkan rata-rata harga. Situasi ini sering membuat investor menjadi ragu atau bahkan berhenti berinvestasi sama sekali.
Sebaliknya, investasi yang dilakukan secara bertahap dan konsisten akan lebih stabil dalam jangka panjang. Metode ini sering dikenal sebagai DCA (Dollar Cost Averaging), yaitu membeli secara rutin dalam jumlah yang sama atau kurang lebih sama. Dengan cara ini, pembelian terjadi di berbagai kondisi harga sehingga rata-rata harga menjadi lebih seimbang.
Untuk memahami cara kerja metode ini secara lebih rinci, termasuk bagaimana melakukannya dengan cara yang benar agar tidak terjebak pada kesalahan investor pemula, kamu bisa membaca penjelasan lengkapnya di artikel Apa Itu DCA (Dollar Cost Averaging).
Contoh kasus yang kurang tepat:
Seseorang menginvestasikan seluruh dana sekaligus, lalu berhenti menambah investasi. Ketika harga turun cukup dalam, ia merasa khawatir dan akhirnya tidak melanjutkan investasi, atau bahkan memutuskan mencairkan investasi karena khawatir harga semakin turun.
Contoh kasus yang lebih tepat:
Orang lain memulai dengan nominal yang tidak terlalu besar, lalu menambah investasi setiap bulan. Ketika harga turun, pembelian berikutnya justru membantu menurunkan rata-rata harga, sehingga tekanan psikologis akan lebih kecil.
Cara menghindari:
Mulailah dari nominal yang nyaman dan usahakan berinvestasi secara rutin. Konsistensi sering memberi hasil yang lebih stabil dibandingkan memasukkan dana besar sekali saja.
Jika masih ragu menentukan nominal awal yang terasa nyaman dan realistis, kamu bisa membaca panduan tentang berapa modal minimal untuk mulai investasi agar memiliki gambaran yang lebih jelas sebelum memulai secara rutin.
Tidak Melakukan Diversifikasi
Sebagian pemula menaruh seluruh dana pada satu jenis investasi saja. Cara ini memang terlihat sederhana, tetapi risikonya menjadi lebih besar jika nilai investasi tersebut turun.
Diversifikasi berarti membagi dana ke beberapa instrumen, misalnya reksa dana, emas, atau saham. Tujuannya bukan mengejar hasil lebih besar, tetapi mengurangi risiko agar portofolio lebih stabil. Ketika satu instrumen sedang turun, instrumen lain bisa membantu menahan penurunan keseluruhan.
Namun, penting dipahami bahwa diversifikasi biasanya mulai terasa penting ketika dana investasi sudah cukup besar atau ketika seseorang mulai masuk ke instrumen dengan risiko menengah hingga tinggi, seperti saham.
Misalnya, ketika dana investasi sudah cukup berkembang, misalnya di atas sekitar 20 juta rupiah, atau ketika portofolio sudah berisi saham, membagi dana ke beberapa saham atau ke beberapa jenis instrumen bisa membantu mengurangi risiko.
Untuk tahap awal dengan dana yang masih kecil, diversifikasi tidak perlu terlalu rumit. Terlalu banyak instrumen justru bisa membuat pemula bingung dan sulit memantau perkembangan investasi.
Cara menghindari:
Mulailah dengan membagi dana secara sederhana. Tidak perlu banyak instrumen di awal, yang penting tidak semuanya berada di satu tempat, terutama ketika dana mulai bertambah atau mulai berinvestasi pada instrumen yang lebih berisiko.
Asal Memilih Platform Investasi
Kesalahan investor pemula selanjutnya yang cukup sering terjadi adalah memilih aplikasi atau platform investasi tanpa memastikan legalitasnya. Kadang orang tergiur promosi atau iming-iming keuntungan tinggi tanpa mengecek apakah platform tersebut resmi.
Risikonya bisa cukup besar, mulai dari layanan yang tidak jelas hingga potensi penipuan.
Contoh kasus:
Beberapa tahun lalu di Indonesia, sempat muncul kasus platform trading yang dipromosikan secara luas oleh influencer di media sosial. Promosinya dibuat sangat meyakinkan dan dikemas seperti investasi yang mudah dan menguntungkan.
Banyak orang tertarik dan ikut mencoba tanpa memahami cara kerjanya maupun legalitas platform tersebut.
Pada akhirnya diketahui bahwa platform tersebut tidak memiliki izin yang jelas, dan banyak pengguna mengalami kerugian. Kasus seperti ini menunjukkan bahwa popularitas atau promosi yang terlihat meyakinkan belum tentu menjamin keamanan suatu investasi.
Cara menghindari:
- pastikan platform terdaftar dan diawasi oleh otoritas yang berwenang
- memiliki reputasi yang baik
- transparan dalam informasi produk
Di Indonesia, legalitas platform investasi bisa dicek melalui beberapa sumber resmi:
- Situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melihat daftar perusahaan dan layanan keuangan yang berizin atau yang masuk daftar waspada.
- Situs Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memastikan perusahaan sekuritas yang menyediakan layanan saham benar-benar terdaftar.
Melakukan pengecekan sederhana sebelum mulai bisa menghindarkan dari masalah yang tidak perlu. Mengecek legalitas melalui situs resmi regulator atau sumber terpercaya hanya membutuhkan beberapa menit, tetapi dapat mencegah risiko yang jauh lebih besar.
Agar lebih memahami pola dan tanda-tanda yang sering digunakan pelaku penipuan investasi, kamu juga bisa membaca panduan lengkap di artikel Ciri-ciri Investasi Bodong dan Cara Menghindarinya sebelum memutuskan berinvestasi.
Mindset yang Membantu Pemula Bertahan dalam Investasi
Selain strategi, cara berpikir juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan investasi, terutama bagi pemula. Banyak orang sebenarnya sudah memilih instrumen yang cukup baik, tetapi berhenti di tengah jalan karena ekspektasi yang kurang realistis atau mudah terpengaruh kondisi pasar jangka pendek.
Beberapa hal yang penting diingat:
- investasi bukan perlombaan — tidak perlu merasa tertinggal hanya karena orang lain terlihat lebih cepat mendapatkan hasil
- setiap orang memiliki kondisi berbeda — penghasilan, tanggungan, tujuan, dan toleransi risiko tidak sama, sehingga strategi juga tidak harus sama
- perkembangan dana membutuhkan waktu — pertumbuhan akan terasa setelah berjalan cukup lama, bukan dalam hitungan minggu
- kesalahan saat mulai investasi adalah bagian dari proses belajar — hampir semua investor pernah membuat keputusan yang kurang tepat, dan itu adalah hal yang wajar.
Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa perjalanan investasi biasanya tidak selalu mulus. Ada periode ketika hasil terasa lambat, ada juga saat nilai turun. Dalam kondisi seperti ini, cara berpikir yang tenang sering lebih membantu daripada mencoba terus-menerus mengubah strategi.
Kesimpulan
Kesalahan investasi pemula sebenarnya sangat umum dan hampir semua investor pernah mengalaminya di tahap awal. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang belajar dari kesalahan tersebut dan memperbaiki langkah ke depan.
Dengan memahami kesalahan investasi yang sering terjadi, menentukan tujuan yang jelas, dan memulai secara bertahap, investasi bisa menjadi kebiasaan yang lebih nyaman dijalankan. Tidak perlu terburu-buru, karena dalam investasi, waktu dan konsistensi sering memberikan hasil yang lebih berarti.
FAQ: Kesalahan Investasi Pemula
Kesalahan yang paling umum adalah memulai tanpa tujuan, menggunakan dana yang belum siap, ikut-ikutan tanpa memahami produk, dan berharap hasil cepat dalam waktu singkat.
Wajar. Nilai investasi memang bisa naik dan turun. Yang penting adalah memahami risikonya sejak awal dan tetap berpegang pada rencana yang sudah dibuat.
Mulailah dari nominal kecil, pahami instrumen yang dipilih, pastikan dana darurat sudah tersedia, dan gunakan platform yang resmi serta terdaftar.
Karena risiko menjadi lebih besar jika nilai investasi tersebut turun. Membagi dana ke beberapa instrumen dapat membantu menjaga kestabilan portofolio.
Boleh, selama keputusan tersebut sesuai rencana dan tujuan. Yang perlu dihindari adalah mencairkan seluruh dana hanya karena euforia sesaat tanpa pertimbangan jangka panjang.
Umumnya investasi lebih efektif jika dilakukan dalam jangka menengah hingga panjang, misalnya minimal 3–5 tahun, karena pertumbuhan membutuhkan waktu.
Fokus pada proses, bukan hasil cepat. Pahami bahwa setiap orang memiliki kondisi berbeda, dan konsistensi biasanya lebih berpengaruh daripada mencoba mencari keuntungan instan.







