Kesalahan mengatur keuangan kelas menengah sering terjadi tanpa disadari, bahkan oleh orang yang penghasilannya sebenarnya sudah cukup untuk hidup nyaman. Banyak orang merasa gajinya kurang, padahal masalahnya sering ada pada kebiasaan mengelola uang sehari-hari.
Pembahasan di artikel ini hanya sebagian dari pengelolaan keuangan secara keseluruhan. Untuk memahami gambaran lengkapnya, kamu bisa membaca panduan utama tentang mengelola keuangan kelas menengah.
Tidak Punya Rencana Pengeluaran
Kesalahan yang paling umum adalah tidak membuat rencana pengeluaran dalam periode tertentu, misal mingguan atau bulanan. Gaji masuk, lalu dipakai sesuai kebutuhan hari itu saja. Tanpa disadari, uang cepat habis sebelum akhir bulan.
Padahal, membuat rencana sederhana saja sudah sangat membantu. Tidak perlu rumit, cukup membagi pengeluaran ke beberapa bagian seperti kebutuhan pokok, tabungan, dan hiburan.
Contoh rencana pengeluaran bulanan
Agar lebih mudah dibayangkan, berikut contoh rencana pengeluaran bulanan untuk seseorang dengan gaji sekitar 7 juta:
- Kebutuhan pokok (makan, kos, listrik, kebutuhan rumah tangga): Rp3.000.000
- Tabungan dan dana darurat: Rp1.500.000
- Investasi: Rp800.000
- Transportasi dan komunikasi: Rp700.000
- Hiburan dan kebutuhan pribadi: Rp600.000
- Bantuan untuk orang tua atau keluarga (jika memungkinkan): Rp400.000
Angka ini hanya contoh, yang penting adalah memiliki pembagian yang jelas agar uang tidak habis tanpa arah.
Contoh rencana pengeluaran mingguan
Selain rencana bulanan, sebagian orang merasa lebih mudah mengontrol uang dengan membaginya per minggu. Misalnya dari kebutuhan pokok Rp3.000.000 per bulan, bisa dibagi menjadi sekitar Rp750.000 per minggu.
Contoh pembagian mingguan:
- Makan dan kebutuhan harian: Rp500.000
- Transportasi tambahan: Rp150.000
- Cadangan kecil atau kebutuhan tak terduga: Rp100.000
Contoh di atas masih gambaran sederhana. Jika ingin melihat pembagian yang lebih lengkap dengan berbagai kondisi penghasilan dan situasi keluarga, kamu bisa membaca panduan tentang contoh budget bulanan yang realistis.
Dengan cara ini, pengeluaran lebih mudah dikontrol karena ada batas yang jelas setiap minggu. Jika dalam satu minggu pengeluaran lebih hemat, sisa uang bisa ditabung atau disimpan sebagai cadangan.
Menabung dari Sisa Uang
Banyak orang menempatkan tabungan sebagai prioritas terakhir. Setelah semua kebutuhan dan keinginan terpenuhi, barulah berpikir untuk menyisihkan uang. Masalahnya, jika tabungan selalu di urutan terakhir, sering kali tidak ada lagi yang tersisa untuk disimpan.
Berapa minimal tabungan per bulan?
Sebagai patokan sederhana, banyak perencana keuangan menyarankan menabung minimal 10–20% dari penghasilan. Jika gaji Rp7.000.000, maka:
- 10% = Rp700.000 per bulan
- 15% = Rp1.050.000 per bulan
- 20% = Rp1.400.000 per bulan
Kalau kondisimu masih banyak kebutuhan, menabung 10% sudah cukup baik. Yang penting konsisten.
Simulasi tabungan dari gaji 7 juta
Jika kamu konsisten menabung Rp700.000 per bulan, maka hasilnya:
- 6 bulan → Rp4.200.000
- 12 bulan → Rp8.400.000
- 24 bulan → Rp16.800.000
Dalam dua tahun, tabungan sudah mendekati 17 juta tanpa terasa berat setiap bulan.
Tidak Mencatat Pengeluaran
Pernah merasa uang tiba-tiba tinggal sedikit padahal baru saja gajian? Ketika diingat-ingat, rasanya tidak membeli sesuatu yang mahal. Hanya jajan kecil, pesan makanan beberapa kali, bayar ongkir, dan mungkin nongkrong sekali dua kali.
Namun karena pengeluaran itu terjadi sedikit demi sedikit, jumlahnya baru terasa besar di akhir bulan. Tanpa menyadari ke mana uang pergi selama sebulan, sulit mengetahui bagian mana yang sebenarnya bisa dikurangi.
Mencatat pengeluaran, walaupun sederhana, bisa membantu melihat ke mana uang sebenarnya pergi. Ini sangat membantu kita mengontrol kebutuhan-kebutuhan yang tidak penting, dan menghindar dari kesalahan mengatur keuangan kebanyakan orang.
Cara mencatat pengeluaran dengan cara sederhana
Banyak orang mengira mencatat pengeluaran itu rumit, padahal sebenarnya bisa dimulai dengan cara yang sangat sederhana. Tujuannya bukan membuat laporan keuangan yang detail, tetapi hanya mengetahui ke mana uang digunakan.
Berikut langkah yang bisa dilakukan:
Catat setiap pengeluaran sekecil apa pun
Mulailah dengan mencatat hal sederhana seperti:
- makan
- transportasi
- belanja kecil
- kopi atau jajan
Tidak perlu rapi atau panjang, cukup tulis:
- tanggal
- dipakai untuk apa
- berapa jumlahnya
Contoh:
- 10 Feb – makan siang – Rp20.000
- 10 Feb – ongkir – Rp10.000
Gunakan cara yang paling nyaman
Tidak perlu aplikasi khusus jika belum terbiasa. Pilih yang paling mudah:
- notes di HP
- buku kecil
- spreadsheet sederhana
Yang penting konsisten, bukan alatnya.
Lihat total di akhir minggu
Setiap akhir minggu, lihat kembali catatan:
- berapa total pengeluaran
- pengeluaran paling besar di mana
- apakah ada yang bisa dikurangi
Langkah ini membantu memahami pola pengeluaran.
Kelompokkan secara sederhana
Agar lebih jelas, pengeluaran bisa dikelompokkan sesuai kondisimu, contoh pengelompokan:
- makan
- transportasi
- kebutuhan rumah
- hiburan
Tidak perlu banyak kategori, cukup yang mudah dipahami.
Fokus pada kebiasaan, bukan kesempurnaan
Di awal, wajar jika lupa mencatat atau tidak rapi. Tidak masalah. Yang penting mulai dulu dan lakukan secara rutin. Semakin sering dilakukan, mencatat pengeluaran akan terasa sebagai kebiasaan, bukan beban.
Gaya Hidup dan Gengsi
Salah satu kesalahan mengatur keuangan kelas menengah adalah menjalani gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan. Keinginan untuk terlihat sama dengan orang lain kadang membuat pengeluaran menjadi lebih besar dari yang seharusnya.
Contohnya:
- sering nongkrong di tempat mahal
- membeli barang hanya karena tren
- memaksakan ikut kegiatan yang sebenarnya di luar kemampuan
Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras. Namun jika pengeluaran lebih banyak dipengaruhi gengsi atau keinginan terlihat “setara”, keuangan biasanya sulit stabil. Yang perlu diingat, kondisi keuangan setiap orang berbeda. Mengatur keuangan berarti berani hidup sesuai kemampuan, bukan mengikuti standar orang lain.
Menikmati hidup tetap penting, tetapi lebih baik dilakukan dengan batas yang jelas agar tabungan dan rencana keuangan tetap berjalan.
Jika ingin mengetahui langkah-langkah praktis untuk menekan pengeluaran tanpa membuat hidup terasa terbatas, kamu bisa membaca panduan tentang cara menghemat pengeluaran bulanan.
Tidak Memiliki Dana Darurat
Dana darurat sering dianggap tidak penting, padahal justru sangat membantu ketika ada kebutuhan mendadak.
Tanpa dana darurat, orang sering terpaksa: – meminjam uang – menggunakan kartu kredit – menjual asset – bahkan sampai menggerus tabungan. Padahal dana darurat bisa dikumpulkan sedikit demi sedikit tanpa membebani keuangan.
Biar kesalahan mengatur keuangan ini dapat dihindari, kamu perlu dana darurat. Bagaimana membangun dana darurat yang baik? Saya telah membuat panduan menyiapkan dana darurat yang dapat kalian pelajari.
Terlalu Banyak Cicilan
Cicilan memang bisa membantu memenuhi kebutuhan, tetapi jika jumlahnya terlalu besar, penghasilan bulanan bisa habis hanya untuk membayar kewajiban. Akibatnya, ruang untuk menabung, dana darurat, dan kebutuhan lain menjadi sangat sempit.
Berapa batas cicilan yang sehat?
Sebagai patokan umum, total cicilan sebaiknya tidak lebih dari 30% dari penghasilan bulanan.
Contoh:
Jika penghasilan Rp7.000.000, maka:
batas cicilan yang masih relatif aman sekitar Rp2.000.000
Jika cicilan sudah melebihi angka tersebut, biasanya kondisi keuangan mulai terasa berat, apalagi jika ada kebutuhan mendadak. Patokan ini bukan aturan mutlak, tetapi cukup membantu sebagai panduan awal.
Evaluasi cicilan secara berkala
Sesekali lihat kembali:
- berapa total cicilan per bulan
- apakah masih dalam batas aman
- apakah ada yang bisa dipercepat pelunasannya
Evaluasi sederhana ini membantu menjaga kondisi keuangan tetap sehat.
Jika kalian mendapat bonus, uang lembur, atau tambahan penghasilan lain, pertimbangkan untuk melakukan pelunasan lebih awal.
Tidak Memiliki Tujuan Keuangan
Salah satu kesalahan mengatur keuangan kelas menengah yang sering terjadi adalah menggunakan uang tanpa tujuan yang jelas. Banyak orang bekerja dan menerima gaji setiap bulan, tetapi tidak benar-benar tahu untuk apa uang tersebut ingin dikumpulkan.
Akibatnya, uang cenderung habis untuk kebutuhan sehari-hari dan keinginan sesaat, karena tidak ada alasan kuat untuk menahan diri atau menabung.
Tujuan keuangan sebenarnya tidak harus besar atau rumit. Bahkan tujuan sederhana sudah cukup membantu, misalnya:
- ingin memiliki dana darurat
- menabung untuk membeli barang tertentu
- mempersiapkan biaya kebutuhan keluarga
- memulai investasi secara rutin
Ketika seseorang memiliki tujuan, cara melihat uang biasanya berubah. Menabung tidak lagi terasa seperti mengurangi uang, tetapi sebagai langkah mendekatkan diri pada tujuan tersebut.
Kenapa tujuan keuangan itu penting?
Tujuan keuangan membantu:
- menentukan prioritas
- mengurangi pengeluaran yang tidak perlu
- membuat menabung terasa lebih bermakna
Tanpa tujuan, pengeluaran sering mengikuti keinginan sesaat. Dengan tujuan, pengeluaran menjadi lebih terarah.
Cara memulai menentukan tujuan keuangan
Untuk pemula, tidak perlu langsung membuat rencana besar. Cukup mulai dari hal sederhana:
- Tentukan tujuan yang realistis. Misalnya ingin menabung 5 juta dalam satu tahun.
- Tentukan jangka waktu. Dengan waktu yang jelas, tujuan terasa lebih nyata.
- Hitung kebutuhan tabungan per bulan. Tujuan akan terasa lebih mudah dicapai jika dipecah menjadi langkah kecil.
Contoh Sederhana:
Misalnya tujuanmu ingin memiliki dana darurat Rp6.000.000 dalam 12 bulan.
Berarti cukup menyisihkan sekitar Rp500.000 per bulan untuk membentuk dana darurat.
Dengan cara ini, tujuan terasa lebih jelas dan tidak terasa berat.
Pendekatan sederhana seperti ini juga sejalan dengan panduan literasi keuangan yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menekankan pentingnya menetapkan tujuan keuangan, mengatur pengeluaran, dan menyisihkan uang sejak awal.
Tidak Mengenali Tanda Keuangan Tidak Sehat
Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh kelas menengah adalah terlalu percaya diri dengan kondisi finansialnya karena merasa penghasilannya sudah “cukup”.
Padahal, banyak yang sebenarnya sedang berjalan di atas lapisan es tipis yang bisa retak kapan saja. Tanpa kemampuan deteksi dini, kamu mungkin tidak sadar bahwa gaya hidupmu selama ini perlahan-lahan sedang menggerogoti aset masa depan.
Beberapa indikasi awal yang sering terabaikan antara lain:
- Ketergantungan pada Fasilitas “Cicilan”: Merasa mampu membeli barang bukan karena saldo di rekening mencukupi, melainkan karena ada pilihan tenor cicilan yang panjang.
- Absennya Pertumbuhan Aset Bersih: Pendapatan hanya habis untuk biaya operasional harian dan hiburan, tanpa ada peningkatan nilai aset (seperti investasi atau properti) dari tahun ke tahun.
- Kecemasan Saat Tanggal Tua: Munculnya rasa stres atau harus sangat membatasi diri setiap kali mendekati akhir bulan karena arus kas yang tidak dikelola dengan baik.
- Tidak Ada Perlindungan Risiko: Terlalu berani mengalokasikan uang untuk keinginan tanpa memiliki bantalan yang cukup untuk risiko kesehatan atau kehilangan pekerjaan.
Mengabaikan sinyal-sinyal ini secara terus-menerus adalah kesalahan strategi yang bisa berdampak panjang.
Untuk evaluasi yang lebih mendalam, kamu bisa menyimak artikel kami tentang berbagai tanda keuangan tidak sehat agar kamu bisa segera memutar balik arah sebelum terjebak dalam krisis finansial yang lebih dalam.
Tidak Berusaha Mencari Penghasilan Tambahan
Satu lagi kesalahan mengatur keuangan kelas menengah yang cukup sering terjadi adalah hanya mengandalkan satu sumber penghasilan, padahal sebenarnya ada peluang untuk menambah pemasukan.
Menghemat pengeluaran memang penting, tetapi dalam beberapa kondisi, menambah penghasilan bisa memberikan dampak yang lebih besar.
Penghasilan tambahan tidak harus langsung besar. Banyak orang memulainya dari hal sederhana, seperti:
- pekerjaan sampingan kecil
- menjual barang atau jasa
- memanfaatkan keterampilan yang sudah dimiliki
Namun perlu dipahami bahwa mencari penghasilan tambahan bukan kewajiban bagi semua orang.
Setiap orang memiliki kondisi, waktu, dan tanggung jawab yang berbeda. Ada yang punya waktu luang, ada juga yang sudah cukup sibuk dengan pekerjaan utama dan keluarga.
Karena itu, tidak perlu memaksakan diri sampai mengorbankan kesehatan atau waktu istirahat. Keuangan yang sehat tetap perlu seimbang dengan kondisi fisik dan mental.
Meski begitu, jika ada kesempatan yang realistis dan tidak terlalu memberatkan, sebaiknya dipertimbangkan dengan serius. Penghasilan tambahan, sekecil apa pun, sering kali bisa membantu mempercepat tercapainya tabungan, dana darurat, atau tujuan keuangan lainnya.
Jika kamu tertarik dan ingin mencobanya, kamu bisa membaca panduan lengkap tentang Cara Mencari Penghasilan Tambahan untuk menemukan ide yang sesuai dengan kondisi dan waktu yang kamu miliki saat ini.
Kesimpulan
Kesalahan mengatur keuangan kelas menengah sebenarnya sering terjadi bukan karena penghasilan yang terlalu kecil, tetapi karena kebiasaan yang kurang tepat, seperti tidak memiliki rencana pengeluaran, mengikuti gaya hidup di luar kemampuan, atau tidak memiliki tujuan keuangan yang jelas.
Kabar baiknya, kebiasaan tersebut bisa diperbaiki sedikit demi sedikit. Tidak perlu langsung sempurna. Mulai dari langkah sederhana seperti membuat rencana pengeluaran, menabung secara rutin, dan lebih sadar terhadap pengeluaran sehari-hari sudah cukup untuk membawa perubahan.
Pada akhirnya, kondisi keuangan yang sehat bukan ditentukan oleh seberapa besar penghasilan, tetapi oleh seberapa bijak kita mengelolanya.
Dengan memahami dan menghindari berbagai kesalahan mengatur keuangan kelas menengah di atas, peluang untuk memiliki keuangan yang lebih stabil dan tenang di masa depan akan jauh lebih besar.
FAQ Kesalahan Mengatur Keuangan Kelas Menengah
Beberapa kesalahan yang paling umum adalah tidak memiliki rencana pengeluaran, gaya hidup di luar kemampuan, terlalu banyak cicilan, tidak memiliki dana darurat, dan tidak memiliki tujuan keuangan yang jelas.
Sering kali masalahnya bukan pada besar kecilnya gaji, tetapi pada kebiasaan mengelola uang. Pengeluaran kecil yang sering, tidak memiliki rencana keuangan, atau mengikuti gaya hidup yang terlalu tinggi bisa membuat uang cepat habis.
Sebagai patokan umum, total cicilan sebaiknya tidak lebih dari sekitar 30% dari penghasilan bulanan. Dengan batas ini, masih ada ruang untuk kebutuhan lain, tabungan, dan dana darurat.
Tidak wajib. Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Namun jika ada kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan tanpa terlalu memberatkan, sebaiknya dipertimbangkan karena dapat membantu memperbaiki kondisi keuangan.
Mulailah dari langkah sederhana:
- membuat rencana pengeluaran
- menabung secara rutin
- mengontrol pengeluaran yang tidak perlu
- menetapkan tujuan keuangan
Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten biasanya memberikan hasil yang nyata dalam beberapa bulan.
Tidak. Mengatur keuangan bisa dimulai dari hal sederhana seperti mencatat pengeluaran dan membagi gaji ke beberapa pos. Yang penting adalah konsistensi, bukan kerumitan metode yang digunakan.







